Senin, 26 Desember 2011

komunikasi hati

interaksi antar manusia, sedih, kecewa, senang, marah, semuanya berhubungan dengan komunikasi.
membahasakan rasa yang tersirat akan menjauhkan kita dari praduga. karena praduga itu dekat dengan kesalahan. komunikasikan apapun yang dirasa, apabila rasa itu dianggap perlu untuk diketahui orang lain. sederhana namun butuh pembiasaan. karena tidak semua masalah terlupakan begitu saja. malah kalau itu mengalami penumpukan, tunggu saja bahaya laten yang akan muncul
sekarang, komunikasi yang bagaimana agar yang kita bahasakan dalam bentuk lisan dan BL (baca: ody langguage) sejalan dengan apa yang kita rasa.
disinilah kita perlu berproses untuk berbahasa yang jelas dan bermakna.bahasa yang mampu mensugesti, memotivasi, mendamaikan.
dan pada akhirnya senyum tulus dari setiap orang yang pernah berinteraksi dengan kita. senyum mengingat kedekatan hati yang pernah terjalin lewat komunikasi hati.
mulai dari sekarang, komunikasi akan menjadi ujung tombak berinteraksi dan hati akan menjadi tangan yang akan menggerakkan, akan kah tombak tepat sasaran atau hanya sekedar menyentuh angin lambaian senja.
komunikasikan dan dunia akan menaggapi..... :)

Sabtu, 03 Desember 2011

gurunya manusia

sejatinya setiap kita adalah pembelajar aktif. proses pembelajaran dalam mencapai makna kehidupan. pendidikan menjadi tonggak-tonggak sejarah peradaban. hal yang wajar, ternyata yang menjadi sorotan adalah tenaga pendidik (baca: guru) yang menjadi sorotan publik.berhasil atau tidaknya sebuah proses pembelajaran. untuk itu seorang guru diharapkan berkarakter yang dekat dengan kesempurnaan. nah, berikutnya kita saling berpendapat untuk menjadikan seorang guru dekat dengan kesempurnaan.
pagi yang indah untuk memulai ibadah hari itu, dia dengan semangat dan penuh keikhlasan datang kesekolah dan pastinya telah menata hati untuk menghadapi banyak karakter nantinya. karakter-karakter yang sedang berkembang dan butuh arahan untuk itu. namun apa daya, jalan yang ditempuh dalam proses pembangunan karakter anak-anaknya tersayang, dianggap nyeleneh dan tidak sesuai dengan pemikiran orang-orang berwewenang di sekolah tersebut. proses mendekatkan diri dengan anak dianggap tidak wajar. seorang guru tetaplah seorang guru dan yang pastinya tetap ada sekat antara guru dan murid. yupz..... seperti bahaya laten. yang dianggap salah adalah kedekatan antara guru dan murid yang terlalu dekat, karena takutnya murid tadi menganggap gurunya adalah seorang "pengasuh". ohhh, sekarang bagaimana kita menyikapi hal ini. karena ketakutan tadi tidak beralasan, dan hanya opini seseorang yang kebetulan dia mempunyai wewenang untuk beropini, sebagai sedikit pengaruhnya disekolah. yang menjadi sorotan sekarang adalah seorang guru adalah orang-orang yang cerdas, paling tidak adalah seorang yang mempunyai kecerdasan linguistic sehingga tidak hanya pada pihak luar saja berkomunikasi kita bagus, namun pada sesama guru, harusnya juga menampilkan kecerdasan linguistic. tidak muluk-muluk, maksudnya adalah pemilihan diksi dalam bertutur kata. dan hal yang tak kalah penting adalah guru harus mempunyai hati seluas telaga. airnya tetap tawar dan menyegarkan. sangat berbahaya kalau segenggam garam (baca: masalah) menjadikan pahit air segelas (baca: hati). proses aktif untuk berbahasa, karena interaksi murid dan guru di sekolah semuanya adalah komunikasi verbal dan nonverbal. adalah wajar kalau guru dituntut mempunyai kecerdasan linguistic.mulai dari sekarang kita berbahasa yang terbaik, karena kata-kata mampu menyebrangi samudra dan menghujam hati hingga darah mengalir bak anak sungai. namun kata-kata mampu menyatukan hati-hati yang terpisah dengan kecepatan 3 x 10 pangkat delapan meter per sekon.